Rasulullah adalah sosok yang paling telaten dalam memilih waktu dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan serta mengarahkan anak dalam rangka memperbaiki prilaku menyimpang dan membentuk kepribadian anak anak yang lurus.
Rasulullah telah menetapkan tiga waktu utama yang bisa dioptimalkan untuk mengarahkan anak, yaitu sebagai berikut.
· 1. Ketika rekreasi atau dalam perjalanan
Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw berikut ini;
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah saw menerima hadiah berupa baghal dari Raja Kisra. Beliau lalu menaikkanku di belakangnya lalu kami pun berjalan bersama. Beliau menoleh kepadaku dan bersabda ‘Wahai anakku’ Aku berkata, ‘iya, wahai Rasulullah’ beliau bersabda, ‘Ingatlah Allah dan Allah akan melindungimu!’”(HR. Hakim)
Dalam hadits lain, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata, “pada suatu kesempatan, Rasulullah menaikkan aku di belakang beliau kemudian beliau membagi rahasia yang tidak pernah di ungkapkan kepada orang lain. Sesungguhnya, Rasulullah suka bila aku menyimpannya satu tujuan tertentu.”
Optimalisasi dalam perjalanan dan rekreasi di contohkan oleh Rasulullah saw. Dalam perjalanannya atau rekreasi adalah moment penting untuk penyampaikan pesan-pesan penting dan berbobot untuk pembangunan dan perbaikan karakter dan prilaku anak. Rasulullah menyampaikan tauhid kepada Ibnu Abbas dalam perjalannya, ini menandakan bahwa momen ini begitu penting untuk memberikan hal yang paling penting bagi pengarahan sikap dan mental anak, karena pesan tauhid adalah inti dari keimanan.
· 2. Ketika makan
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bin Abu Salamah, ia berkata, “saat aku masih kecil, aku bermain di ruangan Rasulullah. Tangankupun bertindak gegabah dalam aktivitas makanku. Rasulullah lau bersabda kepadaku,’Wahai anak muda, sebuah nama Allah, makan dengan tangan kananmu, dan makanan yang cocok denganmu.’ Pada saat itu, cara makanku masih seperti dulu.” HR. Bukhari)
Para sahabat pun membiasakan diri mengajak anak mereka pada setiap jamuan makan, khususnya yang dihadiri Rasulullah, sehingga dengan demikian, diharapkan anak-anak mereka dapat mempelajari ilmu dari Rasulullah dan memahami etika berinteraksi dengan sesama. Dengan demikian sehingga diharapkan anak akan mampuu menjadi generasi yang memiliki kepribadian yang kuat di masa mendatang.
Kebiasaan sahabat di atas, tentu karena seringnya Rasulullah memberikan nasihat ketika mengadakan jamuan makan bersama. Ini berarti Rasulullah memberikan contoh kepada seorang bahwa waktu makan adalah waktu yang cukup baik untuk meberikan arahan kepada anak. Orang Tua harus menyempatkan diri sesekali makan bersama dengan anak muridnya, sehingga bisa memberikan nasihat yang tepat untuk mengubah prilaku menyimpang dari anak-anak didiknya.
· 3. Ketika anak sakit.
Masa sakit akan melembutkan hati orang dewasa yang keras. Apalagi dengan hati anak yang masih bisa dibentuk. Pada saat anak sakit, ada dua kenikmatan besar yang bisa dioptimalkan oleh para orang tua dalam upaya memperbaiki kesalahan dan prilakunya, bahkan prilaku terburuk sekalipun, yakni kenikmatan fitrah masa kanak-kanak serta kenikmatan lembutnya hati dan jiwa indvidu manusia di saat sakit. Rasulullah saw menunjukkan hakikat ini ketika mengunjungi seorang anak yahudi yang sedang sakit. Pada saat itulah, Rasulullah menyerunya untuk memeluk Islam. Kedatangan Rasulullah untuk membesuk anak tersebut mampu membuka pintu hidayah bagi anak tersebut.
Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Seorang anak yahudi membantu Rasulullah. Pada suatu saat, anak itu sakit. Rasulullah lalu membesuknya. Rasulullah kemudian duduk selaras dengan kepala anak yang sedang berbaring dan berkata kepadanya, ‘Masuk Islamlah!’ sang anak menoleh kepada ayahnya yang saat itu menemaninya. Sang ayah lalu berkata kepadanya, ‘Patuhilah nasihat tersebut wahai Abu Qasim.’ Anak tersebutpun masuk Islam. Lalu Rasulullah keluar dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari siksa neraka.’” (HR. Bukhari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar